Proses Belajar Mengajar di Sekolah

A. Fungsi, Tujuan, dan Peran Guru Dalam PBM (Proses Belajar Mengajar)

Pada asasnya, fungsi atau peranan penting guru dalam PBM ialah sebagai “director of learning”(direktur belajar). Artinya, setiap guru diharapkan untuk pandai-pandai mangarahkan kegiatan belajar siswa agar mencapai keberhasilan belajar (kinerja akademik) sebagaimana yang telah ditetapkan dalam sasaran kegiatan PBM. Dengan demikian, semakin jelaslah bahwa peran guru dalam dunia pendidikan modern seperti sekarang ini semakin meningkat dari sekedar pengajar menjadi direktur belajar. Konsekuensinya, tugas dan tanggung jawab guru pun menjadi lebih komplek dan berat pula.

Perluasan tugas dan  tanggung jawab guru tersebut membawa konsekuensi timbulnya fungsi-fungsi khusus yang menjadi bagian integral (menyatu) dalam kompetensi profesionalisme keguruan yang disandang oleh para guru. Menurut Gagne, setiap guru berfungsi sebagai:

a).designer of intruction (perancang pengajaran)

b).manager of instruction (pengelolah pengajaran)

c).evaluator of student learning (penilai prestasi belajar siswa).

1. Guru Sebagai designer of intruction

Guru sebagai designer of intruction (perancang pengajaran). Fungsi ini menghendaki guru untuk senantiasa mampu dan siap merancang kegiatan belajar mengajar yang berhasil guna dan berdayaguna.

Untuk merealisasikan fungsi tersebut, maka setiap guru memerlukan pengetahuan yang memadai mengenai prinsip-prinsip belajar. Rancangan sekurang-kurangnya meliputi hal-hal sebagai berikut:

1.Memilih dan menentukan bahan pelajaran.

2.Merumuskan tujuan penyajian bahan pelajaran.

3.Memilih metode penyajian bahan pelajaran yang tepat.

4.Menyelenggarakan kegiatan evaluasi prestasi belajar.

2. Guru Sebagai manager of instrution

Guru sebagai manager of instruction, artinya sebagai pengelolah pengajaran. Fungsi ini menghendaki kemampuan guru dalam mengelolah (menyelenggarakan dan mengendalikan) seluruh tahapan PBM (proses belajar mengajar).

Di antara kegiatan-kegiatan pengelolahan proses belajar menngajar, yang terpenting ialah menciptakan kondisi dan situasi sebaik-baiknya, sehingga memungkinkan para siswa belajar secara berdayaguna dan berhasilguna.

Selain itu, kondisi dan situasi tersebut perlu diciptakan sedemikian rupa agar proses komunikasi baik dua arah maupun multiarah antara guru dan siswa dalam PBM dapat berjalan secara demokratis. Alhasil, baik guru sebagai pengajar maupun siswa sebagai pelajar dapat memainkan peran masing-masing secara integral dalam konteks komunikasi instruksional yang kondusif (yang membuahkan hasil).

3. Guru Sebagai evaluator of student learning

Guru sebagai evaluator of student learning, yakni sebagai penilai hasil pembelajaran siswa. Fungsi ini menghendaki guru untuk senantiasa mengikuti perkembangan taraf kemajuan prestasi belajar atau kinerja akademik siswa dalam setiap kurun waktu pembelajaran.

Pada asasnya, kegiatan evaluasi prestasi balajar itu seperti kegiatan balajar itu sendiri, yakni kegiatan akademik yang memerlukan kesinambungan. Evaluasi, idealnya berlangsung sepanjang waktu dan fase kegiatan belajar selanjutnya. Artinya, apabila hasil evaluasi tertantu menunjukkan kekurangan, maka siswa yang bersangkutan daharapkan merasa terdorong untuk melakukan kegiatan pembelajaran perbaikan (relearning). Sebaiknya, bila evaluasi tertentu menunjukkan hasil yang memuaskan, maka siswa yang bersangkutan diharapkan termotivasi untuk meningkatkan volume kegiatan belajarnya agar materi pelajaran lain yang lebih kompleks dapat pula dikuasai.

Selanjutnya, informasi dan data kemajuan akademik yang diperoleh guru dari kegiatan evaluasi (khususnya evaluasi formal) seyogyanya dijadikan feed back (umpan balik) untuk melakukan penindaklanjutan proses belajar mengajar. Hasil kegiatan evaluasi juga seyogyanya dijadikan pangkal tolak dan bahan pertimbangan dalam memperbaiki dan meningkatkan penyelenggara PBM pada masa yang akan datang. Dengan demikian, kegiatan belajar mengajar tidak akan statis, tetapi terus meningkat hingga mencapai puncak kinerja akademik yang sangat didambakan itu.

Adapun, dalam proses pendidikan, pada dasarnya guru mempunyai tugas “mendidik dan mengajar” peserta didik agar dapat menjadi manusia yang dapat melaksanakan tugas kehidupannya yang selaras dengan kodratnya sebagai manusia yang baik dalam kaitan hubungan sesama manusia maupun dengan Tuhan. Tugas mendidik guru berkaitan dengan transformasi nilai-nilai dan pembentukan pribadi. Sedang tugas mengajar berkait dengan tranformasi pengetahuan dan ketarmpilan kepada peserta didik. Namun bagi guru di kelas, tugas mendidik dan mengajar merupakan tugas yang terpadu dan saling berkaitan.

Bila ditelusuri secara mendalam. Proses belajar mengajar yang merupakan inti dari proses pendidikan formal di sekolah di dalamnya terjadi interaksi antara berbagai komponen pengajaran. Komponen-komponen itu dapat dikelompokkan kedalam tiga kategori utama, yaitu:

1.Guru

2.Isi atau materi pelajaran

3.Siswa

interaksi antara ketiga komponen utama melibatkan sarana dan prasarana, seperti metode, media, dan penataan lingkungan tempat belajar, sehingga tercipta situasi belajar-mengajar yang memungkinkan tercapainya tujuan yang telah direncanakan sebelumnya.

Tugas dan peran guru sebagai pendidik professional sesungguhnya sangat kompleks, tidak terbatas pada saat berlangsungnya interaksi edukatif di dalam kelas, yang lazim disebut proses belajar mengajar. Guru juga bertugas sebagai administrator, evaluator, konselor dan lain-lain sesuai dengan sepuluh kompetisi (kemampuan) yang dimilikinya. Namun, uraian kali ini kami batasi masalah proses belajar mengajar sebagaimana telah tertuang dalam topik bahasan.

Menurut James B. Brow seperti yang telah dikutip oleh Sudirman A.M. (1990: 142), mengemukakan bahwa tugas dan peran guru antara lain: menguasai dan mengembangkan materi pelajaran, merencanakan dan mempersiapkan pelajaran sehari-hari, mengontrol dan mengevaluasi kegiatan siswa. Tugas guru dalam proses belajar mengajar meliputi tugas paedagogis dan tugas administrasi. Tugas paedagogis adalah tugas membantu, membimbing dan memimpin. (Moh. Rifai, 1998: 135) mengatakan bahwa “Di dalam situasi pengajaran, gurulah yang memimpin dan bertanggung jawab penuh atas kepemimpinannya yang dilakukan itu. Ia tidak melakukan instruksi-instruksi dan tidak berdiri di bawah instruksi manusia lain kecuali dirinya sendiri, setelah masuk dalam situasi kelas”.

Untuk mampu melaksanakan tugas mengajar dengan baik, guru harus mempunyai kemampuan profesional, yaitu terpenuhinya 10 kompetensi guru, yang meliputi :

1. Menguasai bahan, meliputi:

a). menguasai bahan bidang studi dalam kurikulum sekolah.

b). menguasai bahan pengayaan/penunjang bidang studi.

2. Mengelola program belajar mengajar, meliputi:

a). merumuskan tujuan instruksional.

b). mengenal dan dapat menggunakan prosedur instruksional yang tepat.

c). melaksanakan program belajar mengajar.

d). mengenal kemampuan anak didik.

3. Mengelola kelas, meliputi:

a). mengatur tata ruang kelas untuk pelajaran.

b). menciptakan iklim belajar mengajar yang serasi.

4. Penggunaan media atau sumber, meliputi:

a). mengenal, memilih, dan menggunakan media.

b). membuat alat bantu pelajaran yang sederhana.

c). menggunakan perpustakaan dalam proses belajar mengajar.

d). menggunakan micro teaching untuk unit program pengenalan lapangan.

5. Menguasai landasan-landasan pendidikan.

6. Mengelola interaksi-interaksi belajar mengajar.

7. Menilai prestasi siswa untuk kepentingan pelajaran.

8. Mengenai fungsi layanan bimbingan dan penyuluhan di sekolah, meliputi:

a). mengenal fungsi dan layanan program bimbingan dan penyuluhan.

b). menyelenggarakan layanan bimbingan dan penyuluhan.

9. Mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah.

10. Memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil penelitian pendidikan guna keperluan pengajaran.

(Depdikbud, 1984/1985: 25-26).

Selain kompetensi professional, seorang guru juga dituntut memiliki 2 kompetensi lain yaitu kompetensi pribadi dan kompetensi kemasyarakatan (sosial). (Dirto H. dkk, 1983: 21). Sikap pribadi yang dijiwai oleh filsafat Pancasila, yang akan mengagungkan budaya bangsanya yang rela berkorban bagi kelestarian bangsa dan negaranya termasuk dalam kompetensi pribadi. Sedangkan kompetensi kemasyarakatan adalah kemampuan guru dalam membina dan mengembangkan interaksi social baik sebagai tenaga profesional maupun sebagai warga masyarakat (Sultan Zanbi Arbi, 1992/1993: 133).

Disebutkan dalam SK Menpan No. 84/Menpan/1993 disebutkan bahwa bidang kegiatan pendidikan, proses belajar mengajar atau bimbingan dan penyuluhan, pengembangan profesi, dan penunjang proses belajar mengajar atau bimbingan dan penyuluhan. Butir proses belajar mengajar atau praktek, disebutkan tugas pokok guru meliputi kegiatan sebagai berikut :

1. Menyusun program pengajaran atau praktek.

2. Menyajikan program pengajaran atau melaksanakan praktek.

3. Melaksanakan evaluasi belajar atau praktek.

4. Melaksanakan analisis hasil evaluasi belajar atau praktek.

5. Menyusun dan melaksanakan program perbaikan dan pengayaan.

6. Menyusun dan melaksanakan program bimbingan dan penyuluhan di kelas yang menjadi tanggung jawabnya.

7. Membimbing siswa dalam kegiatan kurikuler.

8. Membimbing guru dalam kegiatan proses belajar mengajar atau praktek perorangan.

9. Melaksanakan bimbingan karier siswa.

10. Mengikuti kegiatan EBTA atau EBTANAS.

a). Menyusun kisi-kisi.

b). Menyusun soal.

c). Mengawasi pelaksanaan EBTA atau EBTANAS.

d). Memeriksa hasil EBTA atau EBTANAS.

(SK Menpan No. 84/Menpan/1993).

Dari berbagai pendapat, dapat diperoleh kesimpulan bahwa tugas guru dalam proses belajar mengajar dapat dikelompokkan ke dalam 3 kegiatan, yaitu:

1. Menyusun program pengajaran:

a). Program tahunan pelaksaan kurikulum.

b). Program semester/catur wulan.

c). Program satuan pelajaran.

d). Perencanaan program mengajar.

2. Menyajikan/melaksanaan pengajaran:

a). Menyampaikan materi (dalam GBPP)

b). Menggunakan metode mengajar.

c). Menggunakan media/sumber.

d). Mengelola kelas/mengelola interaksi belajar mengajar.

3. Melaksanakan evaluasi belajar.

a). Menganalisis hasil evaluasi belajar mengajar.

b). Melaporkan hasil evaluasi belajar mengajar.

c). Melaksanakan program perbaikan dan pengayaan.

a. Efektivitas Pelaksanaan Mengajar

Pengajaran merupakan hasil proses belajar mengajar, efektivitasnya tergantung dari berbagai unsur. Efektivitas suatu kegiatan tergantung dari terlaksana tidaknya perencanaan. Karena perencanaan, maka pelaksanaan pengajaran menjadi baik dan efektif. Cara untuk mencapai hasil belajar yang efektif yaitu murid-murid harus dijadikan pedoman setiap kali membuat persiapan dalam mengajar. (S. Nasution, 1998: 101).

Selanjutnya S. Nasution (1998: 102), mengemukakan pendapat tentang cirri-ciri pengajaran yang efektif, yaitu bahwa pengajaran yang efektif merupakan proses sirkuler, yang terdiri atas empat komponen:

1. Mengadakan assessment, mendiagnosis:

a). Asesment atau diagnosis diadakan pada beberapa fase, yakni:

- Tingkat perkembangan kognitif dan afektif

- Kesiapan mempelajari bahan baru

- Bahan yang telah dipelajari sebelumnya ( entry behavior)

- Pengalaman berhubungan denagn bahan pelajaran.

b). Asesment selama proses instruksional, selama berlangsungnya proses belajar mengajar, siswa harus dipantau dan dinilai terus menerus, untuk mengetahui:

- Sampai mana bahan telah dikuasai

- Bahan mana yang kuarang dipahami

- Sebab-sebab kegagalan memahami bahan tertentu

- Metode dan alat mana yang dapat bermanfaat

- Bahan mana yang harus diajarkan kembali dan kepada siswa yang mana.

c). Asesment pada akhir instruksional, yaitu pada akhir pelajaran, untuk mengetahui:

- Apa yang telah mereka kuasai dari seluruh pelajaran

- Apa yang tidak berhasil dikuasai

- Apakah masih perlu diberi ulangan, latihan reinforcement bagi siswa tertentu.

2. Perencanaan pengajaran, terjadi pada dua tingkat, yakni:

a. Tingkat kurikulum umum (timgkat makro)

b. Tingkat instruksional yang spesifik untuk penagjaran dalam kelas.

3. Mengajar dengan efektif

Efektifitas guru mengajar, nyata dari keberhasilan siswa menguasai apa yang diajarkan guru itu.

4. Latihan dan reinforcement, yaitu membantu siswa melatih dan memantapkan pelajaran. Dalam hal ini guru bertindak sebagai “coach”, yaitu membantu, mendorong, memperbaiki, memotivasi, dan memberikan balikan selama proses belajar mengajar. Kegiatan ini meliputi:

a. menyediakan lembaran kerja bagi setiap siswa

b. memajukan pertanyaan yang mendorong siswa mengadakan analisis, sintesis dan penilaian

c. mengadakan simulasi dan permainan peranan

d. memimpin diskusi

e. membantu siswa berfikir kritis, memecahkan masalah atau situasi yang mendukung konflik.

Agar pelaksanaan pengajaran dapat berjalan efektif, maka perluj memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

1. Konsistensi kegiatan belajar mengajaran dengan kurikulum; dilihat dari aspek-aspek:

a. Tujuan pengajaran

b. Bahan pengajaran yang diberikan

c. Alat pengajaran yang digunakan

d. Strategi evaluasi/penilaian yang digunakan.

2. Keterl;aksanaan proses belajar mengajar, meliputi:

a. Mengkondisikan kegiatan belajar siswa

b. Menyajikan alat, sumber, dan perlengkapan belajar

c. Menggunakan waktu yang tersedia untuk KBM secara efektif

d. Motivasi belajar siswa

e. Menguasai bahan pelajaran yang akan disampaikan

f. Mengaktifkan siswa dalam proses belajar mengajar

g. Melaksanakn komunikasi/interaksi belajar mengajar

h. Memberikan bantuan dan bimbingan belajar mengajar kepada siswa

i. Melaksanakan penilaian proses dan hasil belajar siswa

j. Menggeneralisasikan hasil belajar dan tindak lanjut.

B. Pengertian Belajar dan Mengajar Serta Komunikasi dalam PBM (proses belajar mengajar)

1. Definisi Belajar

Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti berhasil atau  gagalnya pencapaian tunjuan pendidikan itu amat tergantung pada proses belajar yang dialami siswa, baik ketika ia berada di sekolah maupun di lingkungan rumah maupun keluarganya sendiri.

Oleh karenanya, pemahaman yang benar mengenai arti belajar dengan segala aspek, bentuk, dan manifestasinya mutlak diperlukan oleh para pendidik khususnya guru. Kekeliruan atau ketidaklengkapan persepsi mereka terhadap proses belajar dan hal-hal yang berkait dengannya mungkin akan mengakibatkan kurang bermutunya hasil pembelajaran yang dicapai peserta didik.

Sebagian orang beranggapan bahwa belajar adalah semata-mata mengumpulkan atau menghafalkan fakta-fakta yang tersaji dalam bentuk informasi atau materi pelajaran. Orang yang beranggapan demikian biasanya akan segera merasa bangga ketika anak-anaknya telah mampu menyebutkan kembali secar lisan (verbal) sebagian besar informasi yang terdapat dalam buku teks atau yang diajarkan oleh guru.

Di samping itu, ada pula sebagian orang yang memandang belajar sebagai latihan belakang, seperti yang tampak pada latihan membaca dan menulis. Berdasarkan presepsi semacam ini, biasaya mereka akan merasa cukup puas bila anak-anak mereka telah mampu memperlihatkan keterampilan jasmaniah tertentu walaupun tanpa pengetahuan mengenai arti, hakikat, dan tujuan keterampilan tersebut.

Contoh Belajar

Dalam mempermudah pemahaman anda mengenai bagaimana sebenarnya proses belajar itu berlangsung, berikut ini adalah contoh sederhana :

Seorang anak balita memperoleh mobil-mobilan dari ayahnya. Lalu ia memcoba mainan ini dengan cara memutar kuncinya dan meletakkannya pada suatu permukaan atau dataran. Perilaku “memutar” dan “meletakkan” tersebut merupakan respons atau reaksi atas rangsangan yang timbul atau ada pada mainan itu (misalnya, kunci dan rada mobil-mobilan tersebut).

Pada tahap permulaan, respons anak terhadap stimulus yang ada pada mainan tadi biasanya tidak tepat atau setidak-tidaknya tidak teratur. Namun, berkat latihan dan pengalaman berulang-ulang, lambat laun ia menguasai dan akhirnya dapat memainkan mobil-mobilan dengan baik dan sempurna. Sehubungan contoh ini, belajar dapat kita pahami sebagai proses yang mana dalam proses itu sebuah tingkah laku ditimbulkan atau diperbaiki melalui serentetan reaksi atas situasi atau rangsangan yang ada.

2. Definisi Mengajar

Mengajar merupakan istilah kunci yang hampir tak pernah luput dari pembahasan mengenai pendidikan karena keeratan hubungan antara keduanya. Sebagian orang menganggap mengajar hanya sebagian dari upaya pendidikan. Mengajar hanya dianggap sebagai salah satu alat atau cara dalam menyelenggarakan pendidikan, bukan pendidikan itu sendiri. Konotasinya jelas, karena mengajar hanya salah satu cara mendidik maka pendidikan pun dapat berlangsung tanpa pengajaran. Anggapan ini muncul karena adanya asumsi tradisional yang menyatakan bahwa mengajar itu merupakan kegiatan seorang guru yang hanya menumbuhkembangkan ranah cipta murid-muridnya, sedangkan ranah rasa dan karsa mereka terlupakan.

Pengertian yang umum dipahami orang terutama mereka yang awam dalam bidang-badang studi kependidikan, ialah bahwa mengajar itu merupakan penyampaian pengetahuan dan kebudayaan kepada siswa. Dengan demikian, tujuannya pun hanya berkisar sekitar pencapaian penguasaan siswa atas sejumlah pengetahuan dan kebudayaan. Dari pengertian semacam ini timbul gambaran bahwa peranan dalam proses pengajaran hanya dipegang oleh guru, sedangkan murid dibiarkan pasif.

Adapun  mangajar merupakan “suatu rangkaian kegiatan penyampaian bahan pelajaran kepada murid agar dapat menerima, menanggapi, menguasai dan mengembangkan bahan pelajaran itu”.

Mengajar merupakan “aktivitas intensional” yakni suatu aktivitas yang menimbulkan belajar. Guru mendriskripsikan, menerangkan, memberi pertanyaan , dan mengevaluasi. Guru juga mendorong, memberikan sanksi hukuman dan ganjaran, dan membujuk; pendek kata ia melakukan banyak hal agar peserta didik mempelajari apa saja yang menurut pemikiran guru yang dipelajari peserta didik dalam cara yang guru sepakati.Guru-guru dibanding pendidikan lain adalah lebih profesional, dalam arti bahwa mereka lebih mengetahui: (a). apa yang mereka ajarkan,  (b). bagaimna mengajarkannya, dan (c). siapa yang bisa mereka beri pelajaran.

Contoh Mengajar

Selaku pengelolah kegiatan siswa, guru sangat diharapkan menjadi pembimbing dan pembantu para siswa, bukan hanya ketika mereka berada dalam kelas saja melainkan ketika mereka berada di luar kelas, khususnya ketika mereka masih berada di lingkungan sekolah seperti di perpustakaan, di laboratorium, dan sebagainya. Dalam hal menjadi pembimbing, guru perlu mengaktualisasikan (mewujudkan) kemampuannya dalam kegiatan-kegiatan sebagai berikut: 1). Membimbing kegiatan belajar para siswa; 2).membimbing pengalaman para siswa.

Membimbing kegiatan belajar siswa, khususnya ketika mengajar tidak hanya berarti bercerama di muka kelas, tetapi juga memberikan peluang seluas-luasnya kepada siswa tersebut untuk melakukan aktivitas belajarnya. Contonya; jika para siswa sedang diajari menulis, maka para siswa itulah yang seharusnya lebih banyak mendapat peluang menulis, bukan guru. Tugas anda yang penting dalam hal ini adalah memberi contoh dan dorongan persuasif kepada para siswa serta menata lingkungan sebaik-baiknya, sehingga memungkinkan mereka belajar dengan mudah. Lingkungan dalam hal ini meliputi guru, papan tulis, pensil dan buku tulis para siswa serta perlengkapan lainnya yang terdapat di ruang kelas.

Dari contoh di atas dapat dipahami bahwa tradisi mengajar dengan mendominasi kegiatan kelas seperti menulis pada papan tulis terus menerus atau mendiktekan teks kepada siswa hingga akhir jam pelajaran, tidak dapat dipandang lagi sebagai kegiatan mengajar yang sesunggunya. Sebab, cara-cara seperti itu sulit diharapkan dapat menimbulkan kegiatan belajar siswa. Padahal salah satu arti penting perbuatan mengajar adalah dalam rangkah menimbulkan bahkan memudahkan belajar siswa.

a. Adapun Komunikasi dalam Proses Belajar Mengajar

Para siswa, dalam situasi instruksional itu menjalani tahapan kegiatan belajar melalui interaksi dengan kegiatan tahapan mengajar yang dilakukan guru. Namun, dalam proses belajar mengajar masa kini di samping guru menggunakan interaksi resiprokal, ia juga dianjurkan memanfaatkan konsep komunikasi banyak arah untuk menciptakan suasana pendidikan yang kreatif, dinamis dan biologis ( pasal 20 ayat 2a UU Sisdiknas 2003 ).

Untuk memperjelas konsep komunikasi banyak arah tersebut, berikut sajikan model  tentang hubungan “multiarah “ yang bersifat instruksional itu.

b. Komunikasi Multiarah dalam PBM (proses belajar mengajar)

  Jadi, di samping para siswa melakukan proses pembelajaran dalam suasana komunikasi dua arah, seyoginya mereka juga dapat melakukannya dalam suasana komunikasi multiarah. Dalam model ini hubungan tidak hanya terjadi antara seorang guru dengan siswa dan sebaliknya, tetapi juga antara siswa dengan siswa-siswa lainnya.

Selanjutnya, kegiatan PBM selayaknya dipandang sebagai kegiatan sebuah sistem yang memproses input, yakni para siswa yang diharapkan terdorong secara intrisik untuk melkaukan pembelajaran yang disajikan di kelas. Hasil yang diharapkan dari PBM (proses belajar mengajar) tersebut adalah output berupah para siswa yang telah mengalami perubahan positif baik dimensi ranah cipta, rasa, maupun karsanya, sehingga cita-cita mencetak sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas pun tercapai.

 

 

C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi PBM (proses belajar mengajar)

Baik buruknya situasi proses belajar mengajar dan tingkat pencapaiannya hasil proses instruksional itu pada umumnya tergantung pada faktor-faktor yang meliputi: 1). karakteristik siswa; 2). karakteristik guru; 3). Interaksi dan metode; 4). Karakteristik kelompok; 5). Fasilitas fisik; 6). Mata pelajaran; dan 7). Lingkungan alam sekitar. Akan dijelaskan pernciannya secara agak lurus.

Pengaruh Karakteristik siswa

Dalam proses belajar mengajar, karakteristik (ciri khas) para siswa sangat perlu diperhitungkan lantaran dapat mempengaruhi jalannya proses dan hasil pembelajarannya siswa yang bersangkutan. Di antara karakteristik siswa yang erat kaitannya dengan PBM adalah sebagai berikut.

1. Kematangan mental dan kecakapan intelektual siswa yang meliputi: kecerdasan umum  (general ability); bakat (specific intelektual ability) ; dan kecakapan ranah cipta yang diperoleh lewat pengalaman belajar.

2. Kondisi jasmani dan kecakapan ranah karsa siswa yang meliputi: kekuatan, kecepatan, koordinasi antara anggota badan dan sebagainya.

3. Karakteristik ranah rasa siswa yang meliputi: tingkat minat belajar, jenis motivasi belajar (intrinsik atau ekstrensik), sikap terhadap guru dan mata pelajaran, dan sebagainya.

4. Kondisi rumah dan status sosial ekonomi keluarga siswa yang meliputi: tingkat keharmonisan kedua orangtua, tata ruang dan peralatan rumah, dan status atau kelas sosial-ekonomi (kelas atas, kelas menengah, atau kelas bawah).

5. Usia siswa. Hal ini berhubungan erat dengan penyesuaian tingkat kematangan dan perkembangan psiko-fisik dengan tingkat kesulitan mata pelajaran yang dipelajari siswa.

6. Jenis kelamin siswa. Hal ini sering berkaitan dengan minat dan bakat umum yang berbeda antara siswa laki-laki lebih cenderung terhadap sains dan teknologi, sedangkan siswa perempuan lebih cenderung terhadap ilmu-ilmu sosial.

 

 

Pengaruh Karakteristik Guru

Peranan guru sebagai mediator (penghubung atau perantara) antara pengetahuan dan keterampilan dengan siswa yang membutukannya, sangat berpengaruh terhadap hasil PBM. Karakteristik guru yang erat hubungannya dengan PBM ialah sebagai berikut :

1. Karakteristik intelektual guru yang meliputi: potential ability (kapasitas ranah cipta bawaan) dan actual ability kemampuan ranah cipta yang nyata;

2. Kecakapan ranah karsa guru, seperti; tingkat kefasihan berbicara, tingkat kecermatan menulis dan memperagakan keterampilan lainnya.

3.  Karakteristik ranah rasa guru yang meliputi: tingkat minat, keadaan emosi dan sikap terhadap siswa dan mata pelajaran sendiri, dan sebagainnya.

4. Usia guru. Hal ini berhubungan dengan bidang tugas yang diemban, misalnya; pelajaran yang berorientasi pada penanaman budi pekerti akan lebih cocok bila dilakukan oleh guru yang berusia relatif lebih tua dari guru-guru lainnya.

5. Jenis kelamin guru. Hal ini berhubungan dengan bidang tugas yang diemban, umpamanya; pengajaran bahasa dan kesenian akan lebih pas jika dilakukan oleh wanita, walaupun sebenarnya tidak  mutlak.

6. Kelas sosial guru. Hal ini berhubungan dengan minat dan sikap guru terutama terhadap profesinya. Guru yang berasal dari strata sosial menengah ke bawah relatif lebih positif dan bangga menjadi guru dibandingkan dengan guru yang berasal dari strata sosial yang tinggi.

Pengaruh Interaksi dan Metode

Dalam setiap proses belajar mengajar di sekolah sekurang-kurangnya melibatkan empat komponen pokok, yaitu: 1). individu siswa; 2). guru; 3). ruang kelas; 4). kelompok siswa. Semua komponen sudah barang tentu memiliki karakteristik sendiri-sendiri yang unik dan berpengaruh terhadap jalannya PBM.

Melalui interaksi antara guru dengan siswa dan interaksi antara sesama siswa (komunikasi dua arah dan multiarah) dalam PBM akan menimbulkan perubahan perilaku siswa baik yang berdimensi ranah cipta, ranah rasa, maupun yang berdimensi ranah karsa. Oleh karena itu, dalam komunikasi instruksional yang direkayasa guru pengelolah PBM seyoginya diterapkan sebuah metode yang releven dengan kebutuhan. Sebab, apabila metode mengajar yang digunakan guru dalam pengelola PBM tepat, maka peluang memperoleh hasil pembelajaran para siswa yang sesuai dengan harapan pun akan lebih besar.

Pengaruh Karakteristik Kelompok

Kesatuan yang terdiri atas para siswa dalam sebuah kelas disebut kelompok. Kesatuan siswa ini memiliki karakteristik tertentu dan turut pula mempengaruhi hasil pembelajaran setiap siswa dalam kelas itu. Karakteristik kesatuan siswa yang dapat mempengaruhi jalannya PBM dan hasil pembelajaran siswa itu, ialah : 1) .jumlah anggota kelompok; 2). Struktur kelompok (jenis kelamin dan usia siswa anggota); 3). Sikap kelompok; 4). Kekompakan anggota kelompok; dan 5). Kepemimpinan kelompok.

Karakteristik kelompok tersebut perlu dipahami sebaik-baiknya oleh guru untuk dimanfaatkan dalam mengatur pelaksanaan kegiatan PBM dan proses pembelajaran siswa, baik sebagai individu maupun sebagai anggota kelompok. Selain itu, pembentukan kelompok khusus di luar kelompok kelas, seperti kelompok diskusi dan kelompok belajar yang kompak dan harmonis juga amat berpengaruh terhadap hasil PBM khususnya dalam hal penyelesaian tugas-tugas bersama.

Pengaruh Fasilitas Fisik

Fasilitas (kemudahan) fisik yang mempengaruhi jalannya PBM dan hasil-hasil yang akan dicapai adalah :

1. Kemudahan fisik yang ada di sekolah, seperti: kondisi ruang belajar atau kelas, bangku, papan tulis, labolatorium, perpustakaan dan perangkat fisik lainnya yang berhubungan dengan kepentingan PBM.

2. Kemudahan fisik yang ada di rumah siswa, seperti: ruang dan meja belajar, lampu, rak buku dan isinya, alat-alat tulis, ventilasi,  dan sebagainya.

Demikian besar pengaruh fasilitas fisik di atas terhadap keberhasilan PBM terbukti dengan kurang memadainya hasil pembelajaran para siswa sekolah yang berlokasi di daerah-daerah tertinggal yang praktis menghadapi masalah dalam menyediakan fasilitas tadi. Selanjutnya, selain pengadaan, pemeliharaan kemudahan belajar khususnya yang tersedia di sekolah perlu pula senantiasa digalakkan untuk mendukung kelancaran PBM.

Pengaruh Mata Pelajaran

Tingkat kesukaran, keluasan dan kedalaman makna yang terkandung dalam bahan pelajaran akan turut mempengaruhi sikap dan minat belajar para siswa selama mengikuti PBM. Selain itu, hubungan antara sebuah mata pelajaran lain juga mempengaruhi lancar atau tidaknya pelaksanaan PBM.

Oleh sebab itu, setiap bahan pelajaran seyoginya  ditata sedemikian rupa hingga memenuhi syarat psikologis-pedagogis. Ini bermakna, bahwa guru perlu menyusun satuan pelajaran yang bersistematis logis, sesuai dengan kemampuan ranah cipta siswa, dan tidak mengabaikan perbedaan individual yang mungkin ada di antara para siswa. Selain  itu, penyusunan jadwal juga perlu dilakukan sedemikian rupa antara lain dengan memperhatikan bobot dan jenis mata pelajaran tertentu dikaitkan dengan stamina (keahanan fisik dan mental) siswa dengan keadaan cuaca dan temperatur atau suhu udara.

Pengaruh Lingkungan Luar

Faktor lingkungan luar (kondisi lingkungan) yang mendorong kelancaran atau kemacetan PBM (proses belajar mengajar), meliput;

1. Lingkungan sekitar sekolah, seperti; keadaan lingkungan gedung sekolah, kondisi masyarakat lingkungan sekolah, situasi kultural sekitar sekolah, juga sisttem pendidikan dan organisasi serta administrai sekolah;

2. Lingkungan sekitar rumah siswa, seprti; tetangga, fasilitas atau sarana umum, strata sosial masyarakat, situasi kultural, dan sebagainya.

Faktor lingkungan luar di atas akan dapat memperlancar PBM jika semuanya dalam kondisi baik dalam arti memenuhi syarat-syarat kependidikan. Sebaliknya, apabila lingkungan luar itu tidak memenuhi syarat kependidikan (seperti letak sekolah di dekat pasar atau terminal), mungkin sekali PBM akan sering terganggu dan pencapaian hasilnya pun kurang memuaskan.

D. Posisi dan Ragam Guru dalam PBM (proses belajar mengajar)

Dalam PBM setiap materi pelajaran, posisi para guru sangat penting dan strategis, meskipun gaya dan penampilan mereka bermacam-macam. Di antara mereka ada yang terlalu keras dan ada pula yang terlalu lemah dan sebagainya.

1. posisi guru dalam PBM (proses belajar mengajar)

Menurut Claife (dalam buku psikologi pendidikan dengan pendekatan baru, 1976:252), guru adalah :…..an authority in the disciplines relevant to education, yakni pemegang hak otoritas atas cabang-cabang ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan pendidikan. Walaupun begitu, tugas guru tentu tidak hanya menuangkan ilmu pngetahuan ke dalam otak para siswa, tetapi juga melatih keterampilan (ranah karsa) kepada mereka.

Sehubungan dengan hal itu, rangkaian tujuan dan hasil yang harus dicapai guru terutama ialah membangkitkan kegiatan belajar siswa. Dengan kegiatan siswa diharapkan berhasil mengubah tingkah lakunya sendiri ke arah yang lebih maju dan positif.

              Kegiatan belajar siswa merupakan akibat atau hasil kegiatan guru mengajar dalam konteks PBM. Namun demikian, tak tertutup kemungkinan adanya proses belajar siswa tanpa melibatkan kegiatan guru, misalnya belajar di luar konteks PBM atau ketika siswa melakukan apa yang disebut everyday learning, artinya, setiap guru mengajar selalu membutukan merid belajar, tetapi tidak setiap murid belajar memerlukan guru mengajar.

2. Ragam guru dalam PBM (proses belajar mengajar)

Berdasarkan hasil riset mengenai gaya penampilan dan kepemimpinan para guru dalam mengelolah PBM, ditemukan tiga ragam guru, yakni: otoriter, laissez-faire, dan demokratis. Tetapi, Barlow (dalam buku psikologi pendidikan, 1991:253) mengemukakan satu lagi yaitu otoritatif. Penjelasan mengenai ragam-ragam guru ini adalah sebagai berikut.

Pertama, guru otoriter (authoritarian). Secara harfiah, otoriter berarti berkuasa sendiri atau sewenang-wenang. Dalam PBM, guru yang otoriter selalu mengarahkan dengan keras segala aktivitas para siswa tanpa dapat ditawar-tawar. Hanya sedikit sekali kesempatan yang diberikan kepada siswa untuk berperan serta memutuskan cara terbaik untuk kepentingan belajar mereka. Memang diakui, kebanyakan guru yang otoriter dapat menyelesaikan tugas keguruannya secara baik, dalam arti sesuai dengan rencana. Namun guru semacam ini sangat sering menimbulkan kemarahan dan kekesalan para siswa khususnya siswa pria, bukan saja karena wataknya yang agresif tetapi juga karena merasa kreativitasnya terhambat.

Kedua, guru laissez-faire (sebut: lezei fee), padanannya adalah individualisme (faham yang menghendaki kebebasan pribadi). Guru yang berwatak ini biasanya gemar mengubah arah dan cara pengelolahan PBM secara seenaknya, sehingga menyulitkan siswa dalam mempersiapkan diri. Sesunggunya, ia tidak menyenangi profesinya sebagai tenaga pendidik meskipunmungkin memiliki kemampuan yang memadai. Keburukan lain yang juga disandang adalah kebiasaan rutinnya menimbulkan pertengkaran-pertengkaran kecil.

Ketiga, guru demokratis (democratic).Arti demokratis adalah bersifat demokrasi, yang pada intinya mengandung makna memperhatikan persamaan hak dan kewajiban semua orang. Guru yang memiliki sifat ini pada umumnya dipandang sebagai guru yang paling baik dan ideal. Alasannya, dibanding dengan guru-guru lainnya guru demokratis lebih suka bekerja sama dengan rekan-rekan seprofesinya, namun tetap menyelesaikan tugasnya secara mandiri. Ditinjau dari sudut hasil pengajaran, guru yang demokrasi dan otoriter tidak jauh berbeda. Akan tetapi, dari sudut moral, guru yang demokratis ternyata lebih baik dan karenanya ia lebih disenangi baik oleh rekan-rekan sejawatnya maupun oleh para siswanya sendiri.

Keempat, guru yang otoritatif (authoritative). Otoratif berarti berwibawa karena adanya kewenangan baik berdasarkan kemampuan maupun kekuasaan yang diberikan. Guru otoritatif adalah guru yang memiliki dasar-dasar pengetahuan bidang studi vaknya maupun pengetahuan umum. Guru seperti ini biasanya datandai oleh kemampuan memerintah secara efektif kepada para siswa dan kesenangan mengajak kerja sama dengan para siswa bila diperlukan dalam mengikhtiarkan cara baik untuk untuk penyelenggaraan PBM. Dalam hal ini ia hampir sama dengan guru yng demokratis. Namun, dalam hal ini memerintah atau memberi anjuran, guru yang otoritatif pada umumnya lebih efektif, karena lebih disegani oleh para siswa, dan dipandang sebagai pemegang otoritas ilmu pengetahuan vaknya seperti yang telah diuraikan diatas.

E. Macam-macam Metode Interaksi Guru Dengan Siswa Dalam PBM

Realisasi interaksi belajar-mengajar tidak lain merupakan pengoperasionalan satu atau lebih metode-metode mengajar. Metode adalah cara-cara yang dilaksanakan untuk mengadakan interaksi belajar-mengajar dalam rangka mencapai tujuan pengajaran. Metode dan juga teknik pengajaran merupakan bagian dari strategi pembelajaran. Metode pengajaran dipilih berdasarkan dari atau dengan pertimbangan jenis strategi pengajaran yang telah ditetapkan. Begitu pula, oleh karena metode merupakan bagian yang integral dengan system pengajaran maka perwujudannya tidak dapat dilepaskan dengan komponen system pengajaran yang lain. Dalam bab ini berturut-turut akan dibahas beberapa jenis metode yang dapat digunakan dalam melakukan interksi belajar-mengajar.

1. METODE CERAMAH

Ceramah adalah suatu penjelasan secara verbal yang bersifat satu arah. Dalam aplikasinya sebagai metode pengajaran, metode ceramah merupakan sebuah bentuk interaksi yang dilakukan melalui penerangan dan penuturan secara lisan oleh guru. Untuk meningkatkan efektivitas penggunaan metode ceramah, biasanya dilengkapi dengan alat-alat audio visual, demonstrasi, tanya jawab dan lain-lain. Dengan kata lain dapat dikombinasikan dengan teknik atau metode yang lain.

Manfaat metode ceramah

Metode ceramah hanya cocok untuk hal-hal berikut:

a.       Untuk menyampaikan informasi

b.      Bila bahan ceramah langka

c.       Kalau organisasi sajian harus disesuaikan dengan sifat penerima.

d.      Bila perlu membangkitkan minat

e.       Kalau bahan cukup diingat sebentar

f.       Untuk memberi pengantar atau petunjuk bagi format lain

Disamping manfaat, ada pula kerugian didalam menggunakan merode ceramah. Metode ceramah tidak cocok untuk hal-hal berikut:

a.       Kalau tujuan belajar bukan perolehan informasi

b.      Untuk retensi jangka panjang

c.       Untuk bahan yang komplek, terperinci dan abstrak

d.      Kalau keterlibatan siswa penting bagi pencapaian tujuan

e.       Bila tujuan bersifat kognitif tingkat tinggi.

f.       Bila tingkat kemampuan dan pengalaman siswa kurang.

g.      Bila tujuan untuk mengubah sikap dan menamakan nilai-nilai.

h.      Bila tujuan untuk mengembangkan psikomotor.

2.  METODE TANYA JAWAB

Dalam proses belajar mengajar bertanya memegang pernanan yang penting, sebab pertanyaan yang tersusun baik dengan teknik pengajuan yang tepat akan: (a) meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan belajar mengajar; (b) membnagkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap masalah yang sedang dibicarakan; (c) mengembangkan pola berfikir dan belajar aktif siswa sebab berfikir itu sendiri sebenarnya adalah pertanyaan; (d) menuntun proses berfikir siswa, sebab pertanyaan yang baik akan membantu, siswa dapat menentukan jawaban yang baik; (e) memusatkan perhatian murid terhadap masalah yang sedang dibahas.

3. METODE DISKUSI

Metode diskusi adalah suatu cara penyajian bahan pelajaran saat guru memberi kesempatan kepada siswa (kelompok-kelompok siswa) untuk mengadakan perbincangan ilmiah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan, atau menyusun berbagai alternatif pemecahan atas sesuatu masalah. Kelas merupakan satu kelompok diskusi. Whole group yang ideal apabila jumlah anggota tidak lebih dari 15 orang. Jenis-jenis diskusi meliputi sebagai berikut:

1.      Buzz Group

Satu kelompok besar dibagi menjadi beberapa kecil terdiri dari 4-5 orang. Hasil belajar yang diharapkan adalah agar segenap individu membandingkan persepsinya yang mungkin berbeda-beda tentang bahan pelajaran, membandingkan interprestasi dan informasi yang diperoleh masing-masing individu dapat saling memperbaiki pengertian, persepsi, informasi dan interprestasi sehingga dapat dihindarkan kekeliruan-kekeliruan.

2.      Panel

Suatu kelompok kecil, biasanya 3-6 orang, mendiskusikan satu subyek tertentu, duduk dalam satu susunan semi melingkar dipimpin oleh seorang moderator. Panel ini secara fisik dapat berhadapan dengan audience dapat juga secara tidak langsung (misalnya panel di televisi).

3.      Syndicate Group

Suatu kelompok (kelas) dibagi menjadi beberapa kelompok kecil terdiri dari 3-6 orang. Gur menyediakan reference atau sumber-sumber informasi lain. Setiap syndicate bersidang sendiri-sendiri atau membaca bahan, berdiskusi dan menyampaikan laporan yang berupa kesimpulan sindikat.

4.      Brain Stroming Group

Kelompok menyumbangkan ide-ide baru tanpa dinilai segera. Setiap anggota kelompok mengeluarkan pendapatnya. Hasil belajar yang diharapkan adalah agar anggota kelompok belajar menghargai pendapat orang lain, menumbuhkan ide-ide yang ditemukan yang dianggap benar.

5.      Symposium

Beberapa orang membahas tentang aspek suatu subyek tertentu dan membacakan di muka peserta simposium secara singkat (5-20 menit). Kemudian diikuti dengan member sanggahan dan pertanyaan dari para penyangga dan juga dari para pendengar. Bahasan dan sanggahan itu selanjutnya dirumuskan oleh panitia perumus sebagai hasil simposium.

6.      Informasi Debate

Kelas dibagi menjadi dua tim yang agak sama besarnya dan mendiskusikan subyek yang cocok untuk diperdebatkan tanpa meperdebatkan peraturan perdebatan.bahan yang cocok untuk diperdebatkan ialah yang bersifat problematic, bukan yang bersifat faktual.

7.      Colloqium

Seseorang atau beberapa orang manusia sumber menjawab pertanyaan-pertanyaan dari audiance. Hasil belajar yang diharapkan adalahpara siswa akan memperoleh pengetahuan dari tangan pertama.

8.      Fish Bowl

Beberapa orang peserta dipimpin oleh seorang ketua mengadakan suatu diskusi untuk mengambil suatu keputusan.

Kegunaan Metode diskusi ini adalah:

a)      Memfaaatkan berbagai kemampuan yang ada pada siswa

b)      Member kesempatan kepada siswa untuk menyalurkan kemampuannya

c)      Mendapatka balikan dari siswa apakah tujuan telah tercapai

d)     Membantu siswa belajar berfikir kritis

e)      Membantu siswa belajar memiliki kemampuan dan peranan diri sendiri maupun teman-teman (orang lain)

f)       Membantu siswa menyadari dan merumuskan berbagai masalah yang dilihat baik dari pengalaman sendiri maupun dari pelajaran sekolah

g)      Mengembangkan motivasi untuk belajar lebih lanjut

4. METODE KERJA KELOMPOK

Kerja kelompok merupakan salah satu strategi belajar mengajar yang memiliki kadar CBSA tinggi. Pelaksanaanya menuntut kondisi serta persiapan yang jauh berbeda denga format belajar mengajar yang menggunakan pendekatan ekspositorik misalnya ceramah.

a. Aspek-aspek Kelompok yang Perlu Diperhatikan dalam Kerja Kelompok

Ada beberapa aspek metode kerja kelompok yang yang perlu diperhatikan, yaitu sebagai berikut:

1. Tujuan

            Tujuan harus jelas bagi setiap anggota kelompok agar diperoleh hasil kerja yang baik. Tiap anggota harus tahu persis yang harus dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya. Itulah sebabnya dalam setiap kerja kelompok perlu didahukui dengan kegiatan diskusi untuk menentukan kerja apa, oleh siapa.

2. Interaksi

Dalam kerja kelompok adatugas yang harus diselesaikan bersama sehingga perlu dilakukan pembagian kerja. Salah satu persyaratan utama bagi terjadinya kerjasama adalah komunikasi yang efektif, perlu adanya interaksi antar anggota kelompok.

3. Kepemimpinan

Dalam kelompok perlu adanya pemimpin yang mengatur pembagian kerja, mengatur komunikasi antar anggota dan mengatur penyelesaian bersama.

4. Perasaan/Iklim Sosial Emosional

Tugas yang jelas, komunikasi yang efektif, kepemimpinan yang baik akan berpengaruh terhadap suasana kerja. Suasana yang kohesif akan mempengaruhi proses penyelesaian tugas. Karena itu produktivitas dan iklim emosional kelompok merupakan dua aspek yang saling berkaitan dalam proses kelompok.

5. SIMULASI

Tujuan Simulasi:

1.      Untuk melatih keterampilan tertentu, baik yang bersifat profesional maupun bagi kehidupan sehari-hari

2.      Untuk memperoleh pemahaman tentang suatu konsep atau prinsip

3.      Untuk latihan memecahkan masalah.

Prinsip-prinsip Simulasi:

1.      Simulasi dilakukan oleh kelompok siswa. Tiap kelompok mendapatkan kesempatan melaksanakan simulasi yang sama atau dapat juga berbeda

2.      Semua siswa harus terlibat langsung menurut peranan masing-masing

3.      Penentuan topik disesuaikan dengan tingkat kemampuan kelas, dibicarakan oleh siswa dan guru

4.      Dalam simulasi seyogyanya dapat dicapai ketiga domain psikis

5.      Dalam simulasi hendaknya digambarkan situasi yang lengkap

6.      Hendaknya yang diusahakan terintegrasi beberapa ilmu.

Kebaikan metode simulasi:

a.       Menyenagkan, sehingga siswa secara wajar terdorong untuk berpartisipasi

b.      Menggalakkan guru untuk mengembangkan aktivitas simulasi

c.       Memungkinkan eksperimenberlangsung tanpa memerlukan lingkungan yang sebenarnya

d.      Memvisualkan hal-hal yang abstrak

e.       Tidak memerlukan keterampilan komunikasi yang pelik

f.       Memungkinkan terjadinya interksi antar siswa

g.      Menimbulkan respon yang positif dari siswa yang lamban, kurang cakap, dan kurang motivasinya

h.      Melatih berfikir kritis, karena siswa terlibat dalam analisa proses kemajuan simulasi

i.        Memungkinkan guru bekerja dengan siswa yang memiliki tingkat kemampuan yang berbeda-beda.

Kelemahan metode simulasi:

a.       Efektivitasnya dalam memajukan belajar belum dapat dilaporkan oleh riset

b.      Validasi simulasi masih banyak diragukan orang

c.       Menuntut imaginasi dari guru dan siswa.

6. METODE DEMONSTRASI

Keuntungan metode demonstrasi:

1.      Perhatian siswa dapat dipusatkan kepada hal-hal yang dianggap penting oleh pengajar, sehingga siswa dapat menangkap hal-hal penting. Perhatian siswa lebih mudah dipustkan pada proses belajar dan tidak tertuju pada hal lain.

2.      Dapat mengurangi kesalahan-kesalahan bila dibandingkan dengan hanya membaca atau mendengar keterangan guru karena siswa memperoleh persepsi yang jelas dari hasil pengamatannya.

3.      Bila siswa turut aktif melakukan demonstrasi, maka siswa akan memperoleh pengalaman praktek untuk mengembangkan kecakapan dan ketrampilan.

4.      Beberapa masalah yang menimbulkan pertanyaan pada diri siswa akan dapat dijawab waktu mengamati proses demonstrasi.

7. METODE TUGAS

Metode tugas merupakan suatu aspek dari metode pengajaran. Setiap guru akan memberikan tugas-tugas dalam setiap pelajaran dengan maksud-maksud tertentu, misalnya untuk meninjau pelajaran baru, menghafal pelajaran yang telah diberikan, membuat latihan-latihan mengumpulkan bahan memecahkan suatu masalah, dan lain-lain. Tugas dapat diberikan kepada individu, kepada kelompok, atau kepada seluruh kelas. Tugas digunakan dalam subyek kurikulim maupun dalam unit. Tugas dapat dilakukan dalam kelas atau di luar jam pelajaran sebagai pekerjaan rumah.

Syarat-syarat tugas yang baik:

a)      Tugas itu harus tegas dan jelas

b)      Sesuatu tugas baik, jika disertai penjelasan mengenai kesulitan-kesulitan yang yang dihadapi

c)      Tugas itu harus relevan dengan apa yang telah dipelajari

d)     Tugas itu seharusnya didiskusikan oleh guru dan siswa

e)      Tugas itu hendaknya disesuaikan dengan kesanggupan dan jika mungkin juga dengan minat murid

f)       Tugas hendaknya dilakukan oleh anak-anak karena yakin akan nilaipelajaran itu baginya dan bukan karena takut Karen ahukuman atau ingin mencapai angka yang tinggi

g)      Tugas harus disesuaikan dengan waktu yang ada pada murid.

8. METODE PENEMUAN

Kebaikan Metode Penemuan:

1.      Dianggap membantu siswa mengembangkan atau memperbanyak persediaan dan penguasaan ketrampilan dan proses kognitif siswa

2.      Metode penemuan membangkitkan gairah pada siswa, misalnya siswa merasakan jerih payah penyelidikannya menemukan keberhasilannya dan kadang-kadang kegagalannya

3.      Metode ini menyebabkan siswa mengarahkan sendiri cara belajarnya, sehingga ia lebih merasa terlibat dan termotivasi sendiri untuk belajar, paling sedikit pada suatu proyek penemuan khusus

4.      Membantu perkembangan siswa menuju skeptisisme yang sehat untuk menemukan kebenaran akhir dan mutlak.

Kelemahan Metode Penemuan:

1.      Dipersyaratkan keharusan adanya persiapan mental untuk cara belajar ini

2.      Metode ini kurang berhasil untuk mengajar kelas besar

3.      Harapan yang ditumpahkan pada metode ini mungkin mengecewakan guru dan siswa yang sudah biasa dengan perencanaan dan pengajaran secara tradisional

4.      Mengajar dengan penemuan mungkin akan dipandang sebagaiterlalu mementingkan memperoleh pengertian dan kurang memperhatikan diperolehnya sikap dan ketrampilan

5.      Dalam beberapa ilmu (misalnya IPA) fasilitas yang dibutuhkan untuk mencoba ide-ide mungkin tidak ada.

Daftar Pustaka

Burhanuddin,Yusak.2005.Administrasi pendidikan.Bandung:Pustaka setia

Purwanto,Ngalim.2007.Administrasi pendidikan dan supervisi pendidikan.Bandung:PT Remaja Rosda Karya

Siswoyo, Dwi, Dkk. 2007. Ilmu Pendidikan. Yokyakarta: UNY Press.

Suharsaputra Uhar. 2010. Administrasi Pendidikan. Bandung: PT Refika Aditama.

Suputro, Suprihadi. 1993. Dasar-Dasar Metodologi Pengakaran Umum Pengembangan Proses Belajar Mengajar. Malang: IKIP Malang.

Suyosubroto. 2002.  Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta : PT Rineka    Cipta.

Syah, Muhibbin, M.Ed. 2006. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Edisi Revisi, Bandung: Remaja Rosdakarya.

Soetjipto dan Kosasi,Raflis.2004.Profesi keguruan.Jakarta:PT Rineka Cipta

Tsauri,Sofyan.2007.Administrasi dan supervisi pendidikan.Jember:Center for society studies

Yusuf, Syamsu dan Juntika Nurihsan. 2010. Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset.

Uraian Dr. Ir. Indra Djati Sidi

 

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: